Makna & Kepentingan Suatu Konservasi Arsitektur

Proses perkembangan kota di Indonesia ditengarai menjadi salah satu penyebab hilangnya jati diri khasanah arsitektur kota atau tradisional. Pembangunan seringkali tidak menyisakan tempat untuk bangunan tua atau bersejarah, yang sebenarnya memiliki peran penting dalam pembentukan jati diri suatu tempat.

Latar Belakang Kebutuhan Konservasi

Tidak sedikit warisan arsitektural berupa bangunan tradisional atau bangunan yang bergaya Indo-Eropa (Indische Architektur) di Indonesia yang membentuk ciri khas kawasan atau kota. Semarang mengenal Gereja Blenduk, Magelang mengenal Borobudur, Yogyakarta mengenal Keraton dan seterusnya. PADA intinya, seni budaya lokal atau Nusantara juga mempunyai karakteristik sendiri seperti halnya pada seni bangsa Barat. Pentingnya pemahaman konservasi harus mengacu pada makna arsietktur bukan pada pemahaman dalam bingkai konservatisme.Makna tersebut berakar bahwa suatu lingkungan, kawasan atau kota sebagai lingkungan binaan memiliki spirit dari tangan-tangan manusia. Bilamana karya arsitektur tersebut bersifat monumental atau memiliki nilai seni atau manfaat yang masih bisa dilestarikan maka sesungguhnya terkandung apa yang disebut genius loci.

Hilangnya bangunan yang telah lama membentuk tengeran lingkungan atau kawasan kota sering dipandang dari sisi real-economic ketimbang nilai hidden-economic-nya. Kalaupun masih ada yang mampu bertahan, sejumlah besar bangunan bangunan bersejarah itu dapat dipastikan berada dalam kondisi merana. Sekalipun telah disahkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (UUBG) yang membuka peluang bagi perlindungan dan pemanfaatan bangunan bersejarah namun upaya konservasi bangunan masih jauh dari harapan. Inti yang hendak disampaikan adalah pelestarian warisan arsitektur atau bangunan tua, yang dalam UUBG Pasal 38 menjadi bagian dari kegiatan pembangunan lingkungan, dapat memberi kontribusi bagi pengayaan budaya membangun. Selain itu, pelestarian bangunan berlanggam arsitektur Indis menjadi signifikan bila dipahami sebagai proses transformasi sosio-kultural yang terjadi dalam masyarakat dan sekaligus sebagai upaya peningkatan kualitas lingkungan perkotaan. Untuk itu diperlukan kearifan dan sikap kritis dalam menyikapi kontekstualitas dalam upaya konservasi untuk dipahami sebagai bagian sejarah perkembangan kota dengan cara melestarikannya.

 

Permasalahan Konservasi dan Perkembangan Kota

      Sebenarnya harus diakui, kerusakan atau lebih parah lagi kemusnahan bangunan tua bukan semata-mata karena disebabkan keterbatasan pengelola kota secara administratif dan regulasi. Penyebab lain adalah adanya perbedaan aspirasi dan kepedulian masyarakat akan hakikat pelestarian bangunan tua yang menjadikan bangunan konservasi tidak dihargai maknanya.  Pada sisi lain, regulasi dan ketidakpahaman terhadap masalah yang dihadapi pemilik bangunan terhadap tuntutan ekonomi tidak hanya menyebabkan disorientasi pembangunan fisik. tetapi juga penolakan untuk dilakukan konservasi. Dalam hal ini peran arsitek sangat penting untuk menjamin terpeliharanya bangunan dan kemampuan untuk membuka wawasan fungsi-fungsi baru.

Selama ini bangunan tua yang dimiliki individu atau swasta relatif lebih rentan rusak atau dialihfungsikan dihancurkan dibandingkan dengan bangunan milik pemerintah atau negara. Sebenarnya bangunan tersebut sekalipun dikonservasi masih dapat memberi kontribusi bagi pemiliknya disamping meningkatkan kualitas wajah lingkungan kota. Hal ini sekaligus menjelaskan bahwa pemilik bangunan konservasi tidak dapat berbuat sesuka hati terhadap bangunan miliknya karena dilindungi Undang Undang. Namun melalui konservasi bangunan itu yang berpotensi menjadi penanda kota (tengeran) akan memberi keuntungan ekonomis bagi pemiliknya.

 

Tujuan dan Sasaran

       Penilaian sebuah bangunan layak dilestarikan bukan hanya didasarkan pertimbangan nilai arsitektural murni, namun harus dipadukan dengan pertimbangan kesejarahan, sosio-kultural, keilmuan, dan politis. Pertimbangan ini selain menyangkut masalah obyek yang bersifat tangible dan in-tangible serta problema bahwa makna kultural arsitektur sulit dikuantifikasikan sehingga diperlukan metode khusus.

Tujuan dan sasaran mempelajari konservasi berkaitan dengan disiplin ilmu arsitektur antara lain menyangkut : (1) Pemeliharaan fisik dari perubahan serta kemungkinan penambahan elemen baru yang tidak merubah karakter (infill-structure), (2) Eksplorasi makna obyek secara mikro (dalam bangunan tersebut), meso (lingkungan atau kawasan), dan makro (kekotaan), (3) Pengembangan fungsi yang tepat baik sebagai bangunan berfungsi tunggal atau majemuk, (4)Dokumentasi arsitektur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s