ANTROPOLOGI BUDAYA (2) : NILAI DALAM KEBUDAYAAN

Budaya dalam arti luas dianggap sebagai pengetahuan dan nilai nilai yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam sebuah kelompok sosial (Coleman, 2005). Pemahaman nilainilai sebagai unsur dan hakikat kebudayaan sangat penting dalam mempelajari antropologi budaya. Pengetahuan dan perasaan adalah sama pentingnya dalam kehidupan individual dan masyarakat. ……dunia tanpa kesukaan dan kemesraan adalah dunia tanpa nilai (Bertrand Russell dikutip Jujun Suriasumantri).

 

2.1  Nilai dan Kebutuhan dalam Kebudayaan

       Maslow mengidentifikasikan lima kelompok kebutuhan manusia yaitu kebutuhan fisiologi, rasa aman, afiliasi, harga diri dan pengembangan potensi. Binatang memiliki kebutuhan pada 2 (dua) kebutuhan pertama yang didukung oleh sifat instingnya. Sedangkan manusia kemampuan instingnya relative kecil namun memiliki kebudayaan yang mengajarkan cara hidup. Cara hidup ini didapatkannya dari belajar, berkomunikasi, menciptakan alat dan menggunakannya yang disebut dalam pembahasan terdahulu sebagai kebudayaan.  Kebudayaan manusia ini semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan usia yang didukung intelijensia dan kemampuan berpikir simbolik. Pandangan ini sangat penting untuk membedakan evolusi manusia dengan binatang. Evolusi manusia sebaiknya harus dipahami dari proses kemampuannya “ berbudaya” yang sama sekali tidak dimiliki oleh binatang.

Menurut ST Alisyahbana (1975)  manusia memiliki budi yang terkandung  dorongan dasar, perasaan, pikiran, kemauan dan fantasi. Budi inilah yang menyebabkan manusia mampu mengembangkan hubungan yang bermakna dengan alam sekitarnya dengan jalan memberi penilaian terhadap obyek dan kejadian (fenomena). Pilihan atas nilai ini yang menjadi tujuan dan isi kebudayaan. Dengan demikian nilai nilai budaya adalah jiwa dari kebudayaan dan menjadi dasar dari segenap wujud kebudayaan. Di samping nilai nilai kebudayaan diwujudkan dalam bentuk tata hidup yang merupakan kegiatan manusia yang mencerminkan nilai budaya yang dikandungnya. Nilai budaya bersifat abstrak hanya dapat ditangkap oleh akal budi manusia.

 

2.2   Nilai dalam Kebudayaan

2.2.1 Pengaruh Nilai

       Kluckhohn (dalam Suparlan, 1984) mempertanyakan mengapa orang Cina tidak menyukai susu serta segala sesuatu yang terbuat dari susu ? Mengapa orang Jepang bersedia mati dengan cara Banzai yang menurut Amerika tidak masuk akal ? Jawaban yang paling akal adalah “ karena mereka dibesarkan dan hidup dalam cara tersebut”.  Antropologi mengartikan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan cara hidup yang diwariskan dalam masyarakatnya. Gambaran lebih jelas lagi ilustrasi sebagai berikut mengenai larangan memakan daging babi dalam agama Yahudi dan Islam. Seseorang penganut agama tersebut yang taat pada larangan suatu saat tanpa sengaja memakan daging tersebut. Ketika diketahui tenyata orang tersebut mengetahui kemudian yang bersangkutan muntah-muntah selama beberapa hari merasakan tidak enak makan. Penyebabnya adalah hubungan proses biologis dalam jaringan kebudayaan. Menurut Kluckhohn kebudayaan memberi saluran bagi proses proses biologi atau lebih tepat dikatakan bahwa fungsi bilogi individu berubah begitu mereka dilatih dan ditanamkan  dengan cara tertentu.

 

2.2.2 Hubungan Nilai dan Perilaku

         Gotong royong dan kerukunan adalah nilai-nilai seperti yang ditemukan dalam tradisi bangsa Indonesia berasal dari pandangan hubungan manusia dengan sesamanya. Menurut Koentjaraningrat (1974) nilai dalam system nilai budaya Indonesia mengandung empat konsep yaitu :

(1)   Manusia berada dalam komunitasnya.

(2)  Manusia tergantung dalam segala aspek kehidupan sesamanya

(3)  Manusia harus memelihara hubungan baik dengan sesamanya

(4)   Manusia harus bersifat adil.

Ke 4 (empat) konsep ini mendasari adanya gotong royong dan kerukunan dalam masyarakat Indonesia. Penyebab pergeseran nilai-nilai tersebut disebabkan antara lain :

(1)   Terganggunya keseimbangan hubungan individu dalam masyarakat

(2)   Renggangnya hubungan kekeluargaan

(3)   Peningkatan urbanisasi

 

2.3   Pemahaman Nilai

2.3.1 Macam macam Nilai

        Pada tanggal 2 Agustus 1939, Albert Einstein seorang ilmuwan yang menguasai teori nukir merasa harus menyurati Presiden Amerika Serikat Franklin D Roosevelt mengenai kemungkinan pembuatan bom atom. Pemikiran tersebut didasarkan pandangan kemungkinan Jerman bermaksud mengembangkan teknologi serupa. Einstein sebagai seorang ilmuwan merasa berpihak kepada Sekutu karena anggapannya adalah kubu ini dapat mewakili rasa kemanusiaan dunia dibandingkan kubu Jerman yang rasis dan fasis. Seorang ilmuwan secara moral tidak berpihak pada tindakan penindasan kemanusiaan. Sekalipun akhirnya kemudian bom atom meledak di dua kota Jepang yang menggariskan tragedy kemanusiaan tapi “ pilihan Einstein saat itu dilandasi pandangan sekiranya Jerman dan kelompoknya menguasai dunia maka akan muncul penindasan”. Pengetahuan dapat melahirkan kemashlatan dan bencana, sehingga seorang yang berpengetahuan harus mampu menjabarkan kekurangan, keterbatasan di samping keunggulannya. Pandangan Einstein ini adalah nilai moral yang menjadi inti “ kebudayaan “ bahwa proses pembentukan budaya tidak dapat dikatakan netral namun ada nilai nilai yang mendasarinya. Pesan Einstein pada mahasiswanya bahwa pengembangan ilmu pengetahuan yang menjadi landasan kebudayaan tidak cukup dengan intelektualitas namun harus didasari keluhuran moral.

Allport, Vernon dan Lindzey (dalam Suriasumantri, 1995) mengidentifikasikan 6 (enam) nilai dasar dalam kebudayaan sebagai berikut dalam table di bawah ini.

 

No

MACAM NILAI

PENJELASAN

1

Nilai  Teori

Hakikat penemuan kebenaran melalui berbagai metode seperti rasionalisme, empirisme dan metode ilmiah.

2

Nilai Ekonomi

Kegunaan berbagai benda dalam memenuhi kebutuhan manusia

3

Nilai Estetika

Keindahan dan segi segi artistik yang menyangkut antara lain bentuk, harmoni, wujud kesenian lainnya yang memberi kenangan pada manusia..

4

Nilai Sosial

Hubungan antar manusia dan penekanan segi segi kemanusiaan yang luhur.

5

Nilai Politik

Kekuasaan dan pengaruh dalam kehidupan masyarakat dan politik.

6

Nilai Agama

Penghayatan yang bersifat mistik dan transcendental dalam usaha manusia untuk mengerti dan memberi arti bagi kehadirannya di muka bumi.

 

Setiap kebudayaan memiliki kriteria hirarki untuk menentukan nilai mana yang lebih penting dan mana yang dapat dikategorikan kurang penting. Pendidikan sebagai perwujudan belajarmengajar dalam kebudayaan manusia harus menempatkan nilai nilai apa yang harus ditanamkan dan dikembangkan dalam anak sehingga dapat mengembangkan pikiran, kepribadian dan kemampuan fisiknya. Pertama, relevansi nilai nilai budaya dengan perkembangan budaya yang ada pada masa sekarang. Kedua, kemampuan untuk mendefinisikan dan mewujudkan nilai nilai tersebut. Hal ini disebabkan nilai nilai ini lebih banyak tersembunyi (implisit) daripada terungkap (eksplisit).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.3.2 Nilai dalam Masyarakat Tradisional dan Modern

Masyarakat modern memiliki perbedaan dengan masyarakat tradisional yang dapat dijelaskan dalam indikator di bawah ini :

 

NO

TRADISIONAL

MODERN

1

Sintetik bahwa asas keseimbangan (harmoni) lebih penting karena kehidupan manusia tidak terlepas dari alam. Alam dianggap sebagai subyek dan manusia sebagai obyek. Pemikiran dalam mengambil keputusan bertitik tolak dari tradisi dan kepercayaan yang dianut.

Analitik yang menganggap bahwa asas efisensi bersifat teknis dan ekonomis karena penguasaan ilmu dan teknologi telah memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Alam dianggap sebagai obyek sedangkan manusia sebagai obyek. Penalaran memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan.

2

Masyarakat tradisional menganggap peran masyarakat sangat penting sehingga individu bagian dari masyarakat. Komunalisme  adalah pandangan yang dianut dalam kehidupan masyarakat tradisional.

Sifat kooperasi untuk survive adalah wujud komunalisme.

Peran individu sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Pandangan yang mendasari adalah kebebasan. Individualisme adalah pandangan bahwa manusia adalah memiliki tanggung jawab secara pribadi dan berhak menentukan tujuan hidupnya sendiri. Sifat kompetisi untuk survive adalah wujud dari individualisme.

 

Mitos dalam masyarakat tradisional sering ditemukan adanya pesan kebudayaan  “ apa yang seharusnya dilakukan “. Sebagai contoh mengenai mitos mengenai arah keraton (istana) di Yogyakarta dan Surakarta menghadap Utara Selatan. Mitos tersebut menceritakan bahwa kekuatan kerajaan di Jawa ini bersumber dari kekuatan sang ibu pertiwi “ Ratu Kidul “ dan “ para Wali yang mewakili kebudayaan Islam Pesisir” utara pulau Jawa. Kedua kekuatan ini diagungkan serta disinergikan menjadi energi kerajaan yang mampu mengayomi rakyatnya. Namun pada sisi lain, sebenarnya mitos ini untuk mengatasi kemungkinan degradasi kepercayaan rakyat ketika keraton mulai kehilangan kekuasaannya. Di sebelah utara keraton telah berdiri benteng Belanda yang berfungsi mengawasi serta menempatkan keraton sebagai pihak yang dikalahkan. Bilamana keraton tetap menghadap ke utara tentu akan mengurangi nilai-nilai keraton sebagai symbol kekuasaan. Pemecahannya adalah penciptaan arah utara-selatan sebagai wujud symbol orientasi keraton. Sesuai dengan pandangan Levi Strauss, keberadaan mitos ini untuk mengatasi kontradiksi empiris yang tidak terpahami maupun tidak mampu dikendalikan dalam tataran simbolis.  

Dalam masyarakat modern kita dapat mengenal seni sebagai perwujudan keindahan yang manusiawi, harmoni dan pengalaman keindahan pada kebudayaan manusia. Bilamana nilai-nilai tersebut tercerabut dari kehidupan manusia maka manusia dapat dikatakan sebagai binatang berakal saja (Mochtar Lubis, dalam Nurdien, 1979).. Dari nilai-nilai kita bisa membedakan “ kesederhanaan dan kemewahan atau kesenangan sejati dan kesenangan semu seperti yang diperoleh saat mengkonsumsi narkoba.

Namun nilai-nilai bisa mengalami pergeseran akibat perkembangan sosial masyarakat dan teknologi. Perubahan positif nilai-nilai dapat terjadi. Sebagai contoh dahulu kesenian Lenong hanya dipertunjukkan masyarakat Betawi di pinggiran Jakarta namun sekarang kesenian ini menjadi komoditas yang layak ditampilkan pada acara resmi nasional. Perubahan negatif nilai-nilai diilustrasikan dalam perubahan tradisi mengadakan pesta besar-besaran dalam perkawinan sebagai symbol status social dan kekayaan. Saat ini banyak keluarga terpandang justru memilih resepsi yang sederhana dan singkat karena merasa merasa akan lebih baik dana yang ada diberikan pada kedua mempelai tersebut. Realitas tersebut menunjukkan bahwa pergeseran sosial mempengaruhi terbentuknya nilai-nilai baru. Nilai modern diklaim merupakan suatu budaya yang dibangun dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta prinsip ekonomi baru. Nilai-nilai dalam kebudayaan modern bisa diterima bila dapoat diterima oleh rasio dan bukti-bukti yang kuat mendukung alasan tindakan tersebut. Kenyataannya tidak selalu modernitas membawa kemashlatan karena nilai-nilai baru ini belum mengakar sehingga apa yang disebut modernitas baru sampai pada kulit luar belaka. Ada sebuah cerita pendek yang ditulis oleh Danarto tentang sebuah mata air di suatu desa. Pelarangan untuk menebang pohon di tepi mata air sebuah desa ditinggalkan karena kepercayaan adanya roh penunggu sudah hilang oleh kepercayaan baru. Namun rasionalitas keberadaan pohon dan mata air dalam hubungan ekologis belum menjadi pengetahuan masyarakat sehingga kemudian yang terjadi “ pohon ditebang “ dan masyarakat mendapati mata air mengering. Bilamana nilai-nilai lama sudah ditinggalkan sedangkan nilai-nilai baru belum kuat terbentuk maka menurut Durkheim (dalam Budiman, 1979) disebut “ anomie “.

 

2.4 Kesimpulan

      Dari bahasan ini dapat dikemukakan bahwa nilai merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam kebudayaan manusia. Perubahan nilai-nilai berakibat pada perubahan kebudayaan manusia. Dari nilai-nilai kita bisa mengetahui proses perubahan dan makna  kebudayaan manusia yang tidak selalu dapat dijelaskan secara eksplisit.

 

Kepustakaan

Suriasumantri, Jujun S. 1995. Filsafat Ilmu. Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Penerbit Sinar Harapan.

Budiman, Kris. 2004. Jejaring Tanda Tanda. Strukturalisme dan Semiotik dalam Kritik Kebudayaan. Magelang : Indonesia Tera.

Suparlan, Parsudi. 1984. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungannya. Jakarta : Penerbit CV Rajawali Press.

Kistanto. Nurdien H. 1982. Puisi Sebagai Modus Penyampaian Nilai-Nilai Manusia. dalam Kistanto. Nurdien H (ed.) Perubahan Nilai Nilai di Indonesia. Bandung : Penerbit Alumni.

Budiman, Arief, 1982. Ilmu-ilmu Sosial dan Perubahan Masyarakat di Indonesia, dalam   Kistanto. Nurdien H (ed.) Perubahan Nilai Nilai di Indonesia. Bandung : Penerbit Alumni.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s